Rabu, 29 Februari 2012

Puisi

1. Pena Hitam
Ayam mencuat kokok di kala pagi
Sang mentari bangun meyejukkan hati
Membawa daku ingin mandi
Hasrat pun tak terbendung
Membawa maksud untuk mengepung
Berbagai ilmu yang menggunung
Ke sekolah daku berangkat
Tak lupa tas aku angkat
Pena hitam pun ikut mangkat
Dan kugoreskan dengan singkat
Daku ingin dapat cepat
Tidak mau dengan lambat
Pena hitam mengubah nasib
dengan makrifat.
2. Sepak bola
Begitu senang aku bermain
hingga waktu sampai aku lupakan
Berlari, menyerang, menyerbu lawan
membawa bola lari masuk ke gawang
Oh, sepak bola siapa gerangan engkau mencipta
Keberadaanmu membawa angin segar dunia
Semangat didalammu membawakan kobaran gelora
Oh, sepak bola apa dikata engkau tiada
dunia sepi!, sunyi !, suram !
bak kota mati yang ditinggal pergi
3. Sajak Untuk Tidur
Hai kawan waktu sudah beranjak malam
Ayo kita tidur, mata sudah mulai sayu
Sang mata sudah berbisik berkata
pejamkan aku, aku mau tidur teman !
Bersiaplah untuk berlomba esok hari
Pak guru sudah menanti
Ilmu baru pun akan di dapati
Selamat tidur kawan, pejam, pejamlah sang mata.
Besok kita akan bertempur
4. Sepertiga Akhir Malam
Kubuka pintu depan rumah
Kusaksikan langit begitu berkilauan
Dihiasi gugusan bintang
Hati pun nampak senang
Sungguh udara dan pikiran begitu lengang
Di sepertiga akhir malam
Kulawan dan kukalahkan udara dingin
Air wudlu pun menembus membasahi kulitku
Dalam sujudku kupanjatan doa kehadiratMu
Jadikanlah bangsa ini,
Bangsa yang aman ,tenteram
dan sejahtera
Bangsa yang menghidupkan
akhir sepertiga malam itu
5. Taman Surga
Saat tatapan mata memandang lepas
Wujud ciptaanNya di dunia
Berdegup hati ini berkata,
Sungguh mempesona tak ada duanya
Ku bayangkan dan kuresapi siapa gerangan
Membuat sama sedemikian rupa
Hati semakin berdegup seraya menangis
teringat dan terngiang, seperti apa
taman surga berada
Meratap dan menangis kembali hati ini
Mengingat janji Tuhan
Hanyalah mereka manusia pilihan
Yang jauh dari perbuatan nista dan angkara murka
Yang akan menjadikan mereka penghuni taman surga
kekal selamanya
Oh, Tuhan walau seribu jalan berliku
Berikanlah petunjukMu pada langkah kaki ini
Agar hambaMu termasuk ke dalam golongannya
6. Mentari
Hai mentari pagi
Hari ini kau datang tampak cerah sekali
Engkau datang tiap hari
Untuk sumber energi pribumi
Semua orang berlari pagi
Untuk menyehatkan diri
Tanpa kau, hai mentari
Di seluruh bumi ini
Akan mati tiada lagi
7. Pengemis-Pengemis Kecil
Ditengah persimpangan warna warni
Di banyak kerumunan besi berasap
Tersaksikan tangan tangan kecil menengadah
Meminta belas kasihan pada sang raja jalanan
Bertalu talu berada di bawah mentari
Menahan hausnya rintihan hati
Mengharap ada yang memberi
Tak pernah lusuh walau dilakukan setiap hari
Sungguh, membenakan hati dirimu itu terlukiskan
Namun siapa gerangan bisa berbuat
Tuk’membalikkan telapak tangan
tentang keberadaanmu itu berada
8. Indah Nian Desaku
Kulihat sawah membentang
Warna hijau bagai permata alam
Ku coba telusuri jalan
Akankah tetap begitu ?
Kuingin tetap begini
Terlihat apa adanya
Kuingin tetap begitu
Terlihat kenyataannya
Mentari mulai tenggelam
Dan…akupun tetap disini
Menikmati alam yang ada
Anugrah dari yang kuasa
Oh…..alam desaku
……aman dan damai
Oh…..alam desaku
……lestarikanlah
9. Berteman Dengan Gempa
Seribu jalan di bumiku itu telah merekah
Laut pun juga ikut tumpah
Manusia Indonesia menggeliat
Menggeliat ke angkasa dan ke dalam bumi
Rumahpun ambil bagian tuk beterbangan
Bagaikan burung yang mengangkasa
di udara lepas
Nuansa jauhari bumi Indonesia pun
menghilang ditelan kejamnya keuatan alam
Apa yang akan kau tangisi ?
Bila memang begitu adanya
Apakah bubur itu
bisa kau jadikan nasi ?
Tidak !, Sang Khalik memang sudah
menakdirkan semua harus terjadi
agar kita bertaulan, dan tidak berseteru
dengan Sang Gempa.
10. Berguru Pada Semut
Hitam, merah berjalan merayap
Menyelinap mencari celah
Mencari makan.
Hitam dan merah tak pernah gerah
Menjunjung makanan bersama sama
Membawa masuk ke istana raja.
Berpesta bersama dalam semangat
yang tetap mempesona.
11. Istana Langit
Memandang ke angkasa lepas
biru,putih bahkan abu-abu
warnamu menampakkan
Tak terbayang jika manusia
berpijak di atasnya
Apa yang akan dirasa,
senang, gembira pasti bahagia disana.
Memang manusia tak berhak tinggal
Apalagi tidur di istana langit
Hanya Tuhan sang pencipta alam
Yang menguasai jagad raya,
Yang bersemayam didalamnya
Untuk mengatur kehidupan ini
sampai kiamat nanti tiba
12. Andaikan Boleh Meminta
Teringat pesan ibu di hari minggu
saat bus aku tunggu
Dik, jika ayah pulang
kamu ingin apa ?
Aku tidak menjawab, diam
Dik, kamu mau apa ?
Aku masih diam, tak menjawab
Dan ibu pun bosan bertanya
Saat duduk di atas bus tua yang pengap
Aku tetap tak menjawab
Aku hanya bicara pada ibu aku ingin
belaian kasih sayang ayah dan ibu
sampai matahari terbit dari barat
13. Dialah Batu
Besar, kecil,hitam dan putih
engkau menampakkan
Orang akan memukulmu bila kau
membangkang
Dan kau dilempar ,bila orang itu kesal
Sungguh malang keberadaanmu
Hanya tukang batu yang mengerti kamu.

14. Sinar Mentari Pukul Sepuluh Pagi

Pukul sepuluh pagi aku berdiri
berjalan dan lalu berlari,
di bawah sinar mentari.
Panasnya menusuk kulitku,
dan menyilaukan mataku,
namun tenang menembus hatiku.
Ingin ku utarakan semua
biar dunia tahu,
aku bangga sebagai makhlukNya!
Terima kasih,Tuhan
Kau masih biarkan aku terbangun hari ini
Kau masih ijinkan hidungku bernafas hari ini
Kau masih memberikanku hidup hari ini
Sehingga aku masih dapat menikmati
karuniaMu yang terindah
dalam permata yang terus bersinar
15. Aku ingin sehat
Badan kurus kering kerontang
tak nafsu makan
Bagaikan bunga-bunga kering
yang beterbangan
Pagi hari yang indah
Harus bangun tanpa gundah
Tinggalkan kelana
Memutar badan berolahraga
Minum dan makan membahana
Menggapai tubuh sehat maha sempurna
16. Puzzle Ajaib
Di tempat teduh nan rindang
bersama teman ku belajar
Bila ku bosan dan lelah
Puzzle ajaib ku mainkan
Memutar otak ke kiri dan ke kanan
Meski pusing namun asyik
dan pintar ku dapatkan
Puzzle ajaib teman baik ku
Selalu setia menemaniku
Dalam langkah langkah kecilku
Menggapai impian yang masih
saja termangukan
17. Mendera Sakit
Dua bersaudara laki –laki semua
Meratap kepedihan di tengah perjalanan usia
Tak menahu kenapa tidak terjadi pada semua
Menahan keluh setiap saat
Karena hidup bersemayam menyatu
dengan mala yang tak kunjung sirna
Dia mengerti bahkan memahami
Tuhan adalah adil dan tak akan
menyirnakan harapan di batas sisa umurnya
yang terus berjalan
Keinginan satu yang terus merayap di tubuhnya
Dia tak ingin terlalu lama
berseteru dengan mala itu
Bahkan tetap meminta
mohon syafaatNya
tuk menjulangkan citanya
di atas sisa umur yang terberi
18. Irama Nusantara
Meliuk, membentang, dan menggejola
Perihalmu menampilkan
Pabila satu, pabila dua, pabila tiga
Itu pastilah berbeda
Sedikit orang yang memperlihatkan
Apalagi mengerti perihalmu beda itu
Tak sedikit darah yang ditumpahkan
ataupun harta dikobarkan
Tuk menebus gejolak iramamu itu
Memang hanya satu yang dapat
meredam ,meluluh, bahkan menyirnakan
Pabila persatuan tertancapkan di irama nusantaramu
19. Lurus Tajam
Berkelok-kelok itu
pasti ada yang ke kiri dan ke kanan
Namun bila lurus
takkan pernah menemuimu
baik kiri maupun kanan
itulah hendaknya ditempuh
Singkat, cepat, dan ringan,
Lakukanlah bila ingin menemui-Nya

Selasa, 28 Februari 2012

Mengubah Puisi Menjadi Prosa

Memparafrasekan puisi artinya mengubah puisi menjadi bentuk prosa/narasi tanpa mengurangi inti/makna puisi tersebut. Langkah termudah adalah dengan menyisipkan beberapa kata di antara dua kata dalam puisi sehingga menjadi bentuk prosa/narasi yang logis dan lebih mudah dipahami.
Contoh : memparafrasekan puisi “Karangan Bunga” karya Taufik Ismail.
Karangan Bunga

Tiga anak kecil
dengan langkah malu-malu
datang ke Salemba
sore itu
Ini dari kami bertiga
pita hitam
pada karangan bunga
sebab kami ikut berduka
pada kakak
yang ditembak mati
siang tadi
Karangan Bunga (paraphrase)

(ada) tiga anak kecil
(berjalan) dengan langkah malu-malu
(datang) ke Salemba
(pada) sore itu
Ini dari kami bertiga(kata mereka)
(sebuah) pita hitam
(disematkan) pada karangan bunga
sebab kami (merasa) ikut berduka
pada kakak (kami)
yang ditembak (hingga) mati
(pada) siang tadi.
Sekedar contoh cara penulisan parafrase puisi ‘Karangan Bunga’ adalah sebagai berikut :
Ada tiga anak kecil berjalan dengan langkah malu-malu. Mereka datang ke Salemba pada sore itu. “Ini dari kami bertiga” kata mereka. Sebuah pita hitam disematkan pada karangan bunga, sebab kami merasa ikut berduka pada kakak kami yang ditembak  hingga mati pada siang tadi.
Pembelajaran paraphrase puisi perlu latihan dan latihan. Karena semakin banyak berlatih perasaan dan penghayatan terhadap isi/makna sebuah puisi akan semakin terasah. Hal ini amat berperan dalam proses memparafrasekan sebuah puisi.

Macam-macam puisi

=IBU=

langkah demi langkah tlah terhentak
peluh tlah bertetesan
air mata talh berderai
......
ibu
tlah kau hujamkan matamu
tuk menentang sang surya
tlah kau hentakan kakimu
tuk menindas bumi
tlah kau mantapkan hatimu
tuk taklukan sang waktu

ibu
begitu basar nan indah
mahlegai cinta yang kau berikan
begitu suci kasih yang tlah kau ciptakan

ibu
aku malu.....pada mu
begitu besar pengorbanan mu
untuk ku.........
namun ku tak bisa membalas nya

ibu
aku takut
takut kehilangan perhatian, kasih sayang dari mu

ibu
tlah kau luangkan begitu banyak waktu
hanya tuk menjaga ku
tlah kau hempaskan kepentingan mu
hanya tuk mengurusku

ibu.
remuk hati ini......melihat mu menangis
hancur raga ini melihatmu terluka
mati raga ini bila kau tiada

ibu
senyumanmu...adalah surga dan kebahagiaan ku
tawa mu adalah lembutkan egoku
kebahagianmu adalah kesempurnaan hidupku

tapi
tangismu.....siksa hidupku
derita mu.....matikan jalanku
matimu.....hancurkan hidup ku
 
 
Air Kehidupan
Dimana bisa kutemukan
Secangkir kehidupan
yang kau ciptakan
Hausku tak terbendung waktu
Tubuh mati rasa karna dahaga
Berlari aku mencari
Merangkak hingga terjebak
Berjalan seperti melayang
Air-Mu tak kunjung datang
Mungkin tuhan belum izinkan
            Aku menemukan
Secawan air kehidupan

Harapan Bagai Awan yang Hujan  
Dalam malam terawang gadis kembang
Merekah dalam senyuman dan harapan
Tentang cinta tersimpan dalam awan
Lalu berserakan menjadi hujan

Seisi malam terbayang parasmu yang ayu
Berselimut rindu yang menggantung di bulan
terlalu lama kutahan
menikam kejam
Rasa yang bertaburan bagai bintang melayang

Angin berdesau menarik ranting
Lembayung tersungging di pelepah ara
Dalam sepi yang mengigit jari
hati tertimbun impian
Yang tak mungkin jadi kenyataan           


Berlari Mengikuti Hari

Ia tak jadi bunuh diri
Tatkala bulan diselimuti awan
berubah menjadi clurit
yang menggigit cekit
tangannya yang hilang di tengah hujan

Ia tunda bunuh diri
Waktu terdengar azan melewati hujan
            menghanyutkan jendela jiwa
            begitu dalam terasa
Terlepas setan dalam pundian badan

Setan bercaling memakan daging 
Membisikkan harapan berisi bualan
apa arti hidup ini
tak berarti
tanpa kesenangan indrawi menggoyang hati

Iblis-iblis yang menjelma katak
Bertengger disepasang pundak
            merogoh jantung
            menjerat erat
Berakar pada dinding hati yang sunyi

Kini ia telah pergi dalam sendiri
Dalam hitungan putaran waktu tertentu
            Bebas beban tanpa setan
            Tak tahu bagaimana
Mungkin ia jadi membunuh diri
Malang, 2007


Perawan berambut panjang 

Perawan berambut panjang berjalan pelan
Menapaki jalan terjal menuju sungai grojogan
Perawan siapa gerangan?
Sarang burung pipit menjelma lingkaran puting beliung
Yang meluluhlantakan alam semesta jiwaku

Perawan itu masih berambut panjang
Membawa tembikar membelah semak belukar
            wajah yang rupawan
            terselipkan kerahasiaan
Tentang ketangguhan batang-batang gempolan*

Rambut panjang itu masih tergerai
Berderai tertiup angin lembayung senja
            indah mata memandang
            meniupkan seruling gembala
            mengaramkan samudera jiwa pada kapal-kapal 
Yang melambangkan kecantikan dari sang Hyang tunggal

Tulungagung, 2002

*Sejenis pohon beringin yang besar
 
Ketika Diri dan Hati Bersemadi 

Mata terbuka terukir tanda 
Hati tertuju pada Satu mengikat nafsu 
Nafas terhembus pelan kadang tanpa nafas       
Menekan jiwa bermain air dan terik surya 
Menyibak atman dalam diri

Mata terbuka terukir tanda
Menghadap mantap raga sila tangan membentuk mudra
Mencari ketenangan dalam merombak rasa
Memerangi keakuan yang menyerap rahsa dari-Nya
Menjadi aku yang mutlak terliputi oleh-Nya   

Mata terbuka terukir tanda
Khusuk mahsyuk benam jiwa kedalam-Nya
Mengalir tidak seperti air
Tidak juga berhembus
Atau diam
Diam dalam gerak
………Hu ya ha hu

Mata terbenam tenggelam

Bengkel Sastra, tengah malam.
05-04-07






Hening dalam Pening 
Sekarang aku rasa duduk di perasingan
Jauh dalam kesendirian di tengah keramaian
Terpaku pada rasa yang sering terlupa
Tentang diri ini yang sedang mencari guru sejati

Otak bertanya:
“kemana kita cari pencerahan?”
Lama hati terdiam dalam kelam
……….hening sunyi tak ada jawaban
Senyap tak berucap

Ada suara:
Pencerahan bukan ajaran
Kita cari dalam diri dan hati
Menaruh mahkota cinta dalamnya
Tak terperi rasa manusia  

Otak bertanya:
“siapa guru sejati?”
Masih seperti lalu
Keheningan merayap bagai gagak yang hinggap
Menebar jala dan perangkap
Merambang dalam terawang

Suara berbisik:
Guru sejati pribadi yang suci
Seperti hati yang menerangi 
Berasal dari-Nya dan kembali pada-Nya
Manusia sering lupa
Ia adalah semesta
Semesta adalah manusia
Otak terdiam bungkam
Tenggelam menyatu padu bersama alam-Nya     

Bengkel Sastra, tengah malam.
05-04-07

Pencarian dan Keputusan
Aku berjalan mengikuti bulan
Semakin kuikuti semakin tertinggal
Aku berjalan…..ia berlari
Aku berlari…….ia melesat pergi
Aku masih tertinggal

Aku berjalan mengikuti matahari
Hari-hari panjang ku lalui
Tubuh penuh peluh
Hati perih mendidih
Kaki terasa terhimpit sakit
Aku semakin tertinggal

Aku berjalan sendirian tanpa teman
Melawan iblis yang datang……sendirian
Dalam kesendirian kutemui sebuah harapan
Tanpa bulan aku berjalan

Dalam perenungan hati
Akhirnya kutemui cahaya Ilahi
Yang terpancar dari kedalaman hati
Cahaya hati melebihi mentari di siang hari
Tanpa matahari aku berlari 

Malang, 2007
Shramana

Mereka berjalan bertemankan awan
Mencari kebenaran sejati tanpa reinkarnasi
Meski jalan penuh dengan tantangan
Tiada henti menuju pada yang Ilahi

Mereka tidur beratap langit beralas bumi
Tiada hari tanpa samadi melatih pengendalian diri
Dari raga sampai hati
Hanyut dalam rengkuhan ilahi

Bagus Setya Mahardika. Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Penggiat Sastra di Bengkel Imaji Malang. Karya pernah di muat di media lokal Malang.

Petani

KEKECEWAAN PETANI
Kau menanam padi susah payah
Walau harus berjemur di sawah
Tapi kau tidak takut kalah
Dengan tikus-tikus sawah
Walau hasil panen harus dijual murah
Tapi tekadmu tidak akan goyah
Sungguh besar jasamu petani
Kau memanen padi dengan ani-ani
Kau pergi ke sawah setiap hari
Walau kau harus pergi pagi-pagi
Jika kau panen kau juga berbagi
Terima kasih atas jasa petani
CINTA KEBERSIHAN
Mari teman, mari kemari
Kita singsingkan lengan baju
Kita bersihkan rumah
Kita bersihkan lingkungan
Kita jaga selalu kebersihan
Jangan biarkan sampah berserakan
Buanglah sampah pada tempatnya
Kita cinta kebersihan
Rumah bersih nyaman
Lingkungan bersih sehat
DESAKU
Desaku, tempat kudilahirkan
Dan tempat kudibesarkan
Kelestarian lingkungannya
Sangat indah dan menawan
Membuat orang tak bosan memandang
Desaku sangat damai
Tidak ada keributan
Warganya rukun dan saling menyayangi

Puisi untuk Ayah dan Ibu

Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka
Perindahlah ucapanku di depan mereka
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkan hatiku untuk mereka…….
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya,
atas didikan mereka padaku dan Pahala yang
besar atas kasih sayang yang mereka limpahkan padaku,
peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan
atau kesusahan yang mereka deritakan kerana aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka kerana perbuatanku,
maka jadikanlah itu semua penyebab susutnya
dosa-dosa mereka dan bertambahnya pahala
kebaikan mereka dengan perkenan-Mu ya Allah,
hanya Engkaulah yang berhak membalas
kejahatan dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku.
Tetapi jika sebaliknya, maka izinkanlah aku
memberi syafa’at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki Kurnia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir
dan Engkaulah yang Maha Pengasih diantara semua pengasih.
Amin Ya Rabbul Alamin..

Kucingku yang Lucu

Kucing….
Suaramu merdu
setiap kamu lapar
pasti mengatakan,”Meong.”
Tetapi…
Kau sungguh lucu sekali
Setiap aku kesana kemari
Kau selalu mengikutiku
Aku sayang padamu

Kebenderangan

Kala malam semakin larut
Aku terpaku di dalam kesunyian
Terdiam menatap ilusi kesendirian
Diriku seakan terbiar dalam kehampaan

Kebekuan jiwa menjelma
Kedinginan nurani selalu menemani
Aku merindu tentang kehangatan
Aku bermimpi tentang keindahan

Saat tirai kegalauan mulai tersibak
Fatamorgana menjauh dari realita
Hingga tersingkaplah kebenderangan


Tangisan Bumi Pertiwi


Saat aku sendiri
Di rumah sendiri
Yang sepi dan sunyi
Bahkan tak ada yang berbunyi
Aku termenung dalam sepi
Tiba tiba ku mendengar
Suara yang tak ku kenal
Suala dari dalam bumi
Itulah saat dimana bumi menangis
Tangisannya terdengar sangat miris
Karena bumi merasa disakiti
Oleh manusia manusia tak bertanggung jawab
Saat semua orang menangis
Karena bumi yang semakin terkikis
Karena bumi marah dan,
Merasa sakit
Manusia berbondong bondong
Mencari sebuah cara dan solusi
Cara dan solusi yang praktis
Tanpa berpikir secara logis
Marilah semua,
Tundukkan kepala
Sadari kesalahan kita dan,
Berusaha membenahi bumi kita.
Marilah kita semua,
Gunakan waktu kita yang mulai habis
Dengan beramal, beribadah , berdoa dan,
Sekali lagi benahi diri kita….

Anak Pengojek Payung
Siang hari yang gerimis
Di sebuah terminal
Terlihat seorang anak
Berbaju rombeng membawa payung merah
Dengan muka memelas
Berusaha menawarkan jasanya
Dengan paying yang dibawanya
Ia menjari seorang pelanggan
Berharad mendapatkan uang
Ia rela berhujan hujanan
Demi sesuap nasi
Untuk mengisi perut yang kecil
Saat hujan berhenti
Anak pengojek paying pulang
Pulang ke ruma dengan membawa
Beberapa lembar uang seribuan
Uang yang tak seberapa
Ia belikan beberada bungkus nasi tanpa lauk
Berharap yang dirumah bias makan
Ia berlari agr cepat sampai ke rumah
Agar adiknya bias cpat makan
Agar adiknya tidak lama menunggu
Sampai di rumah ia berikan bungkusan nasi
Yang dibelinya siang tadi
Oh… sungguh malangnya anak itu
Ia seorang yatim piatu
Tinggal di bawah kolong jembatan
Dengan adiknya yang masih balita
Ia bekerja keras setiap hari
Demi emncukupi kebutuhanya
Semata mata hanya
Ingin mempertahankan hidup walaupun hanya sebentar
Ketamakan yang meraja lela
Di dunia in
Manusia yang menghuni mendadak serakah
Karena mereka haus
Haus akan kekuasaan dan kekayaan
Yang ada di pikirn mereka hanya
Uang, uang, dan uang
Sedikit dari mereka yang sadar
Sadar akan kehidupan
Mereka yang tamak dan serakah
Hanya memberi senyum
Kepada orang terpandang dan,
Bertindak kasar terhadap yang lemah
Naik haji semata ingin di puji
Korupsi di anggap rizki
Narkoba barang yang nikmat
Dimana pikiran sehat mereka?
Apakah hanyut ditelan bumi?
Apakah hanyut terbawa banjir?
Apakah hancur diterjang gempa?
atau Kalian bakar?
Apakah ini ?
Apakah ini ucapan terimakasih kalian?
Lalu apakah arti hidup?
Jawablah apa itu arti hidup bagi kalian?


Indahnya duniaku
Ku buka mata
Di pagi hari yang cerah
Ku dengar kokok ayam
Yang bersahutan
Ku buka jendela kamar
Kulihat emntari pagi
Yang telah bersiap menemeni
Hariku hingga terbenam
Kuhirup udara pagi
Yang masih bersih dan sejuk
Ku dengar kicau burung
Yang indah berbunyi bergantian
Hingga hari menjelang malam
Kunikmati hariku
Aku duduk bersiap
Di depan jendela kamarku
Berharap dapat menyaksikam
Matahari terbenam
Hingga bintang dan bulan
Datan menghias angkasa malam